Login

Festival Desa Lestari Beri Ruang Usaha Desa Unjuk Produk

Dipublikasikan pada 17 Desember 2019 16:08:50

Berita & Artikel

Akhir minggu lalu, lebih dari 30 desa di Jawa Tengah berpartisipasi dalam Festival Desa Lestari yang diadakan oleh Tanilink di Sukoharjo. Usaha-usaha desa ini sebagian besar menjual aneka kuliner tradisional, kuliner khas desa, dan berbagai produk pangan olahan. Beberapa stand juga yang menjual kerajinan tangan dan buah - buahan.

Pembukaan festival antara lain diikuti oleh perwakilan masing-masing stand, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa tingkat kabupaten dan provinsi Jawa Tengah, Forum BUMDes Jawa Tengah, dan Paguyuban Petani Merapi Merbabu. Ir.Sugeng Riyanto M.Sc, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kependudukan, dan Catatan Sipil (Dispermadesdukcapil) Provinsi Jawa Tengah mengungkapkan apresiasi dan dukungannya atas diselenggarakannya Festival Desa Lestari.

“BUMDes di Jawa Tengah kita kumpulkan. Apa yang mereka perbuat, apa yang mereka lakukan, ditonjolkan di sini. Dijual, dipertontonkan kepada masyarakat, agar orang tahu bahwa BUMDes siap untuk menggebrak perekonomian desa.“, saat membuka Festival Desa Lestari tanggal 14 Desember 2019.

Festival berlangsung sejak sore hingga malam hari. Meski sempat turun hujan pada hari pertama, tidak menyurutkan antusiasme pengunjung untuk mencicipi aneka masakan tradisional dan khas desa. Semakin malam, kemeriahan festival semakin terasa dengan adanya hiburan musik tempo dulu.

Salah satu menu yang paling dicari di festival ini adalah mendoan asli Banyumas. Selama festival, stand ini tidak pernah sepi antrian. Menu-menu unik dari daerah yang jauh dari Solo seperti nasi gandul Pati dan sate srepeh Rembang, juga menarik perhatian pengunjung yang umumnya berasal dari sekitar Solo. Tidak kalah ramai, makanan yang sudah cukup dikenal seperti nasi liwet, wedang ronde, pecel, tahu petis, dan gudeg, tetap diserbu pengunjung.

fdl2019

Festival ini juga diikuti oleh produsen kopi nusantara dari wilayah, yaitu Temanggung, Semagar Wonogiri, Krinjing Wonosobo, dan Kaligesing Purworejo, yang masing-masing memiliki kekhasan sendiri. Misalnya Kopi Ndorog dari Semagar Wonogiri yang mengangkat kopi robusta sebagai produk unggulannya, atau Kopi Temanggung yang menyajikan kopi dengan berbagai cara seduhan dan olahan. Tidak ketinggalan, ada juga berbagai cemilan lokal seperti cabuk rambak, putu bumbung, serta produk inovatif seperti brownies bekatul dan susu bekatul dari Klaten, dan masih banyak lagi.

Melihat antusiasme pengunjung dalam festival ini menunjukkan bahwa produk desa masih mampu bersaing dengan produk-produk industri atau waralaba. Salah satu yang kerap menghambat penjualan produk desa adalah cara pemasarannya yang umumnya masih tatap muka atau kurangnya jaringan pemasaran. Di era 4.0 yang serba digital ini, usaha desa perlu mulai merambah pasar online.

peserta_fdl

Festival ini terselenggara dengan dukungan dari Teh Ndeso, tehnya petani teh yang tergabung dalam Paguyuban Tani Lestari dan Dispermadesdukcapil Jawa Tengah. (ssi)