Dalam rangka meningkatkan program go organik Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah berkerja sama dengan Kelompok Tani Tranggulasi Merbabu mengadakan program pelatihan pembuatan dan pemanfaatan pupuk organik untuk komoditas petani tembakau diwilayah Jawa Tengah. Dalam kegiatan yang di adakan di seketariat P4S Tranggulasi di dusun Selongisor, Desa Batur, Kecamatan Kopeng, Kabupaten Semarang diadakan selama 3 hari, dimana di dalampelatihan dijadikan 2 kelompok. Kelompok 1 dilaksanakan di hari Selasa sampai dengan Rabu 1 -2 oktober 2019, sedangkan untuk kelompok 2 dilaksanakan mulai hari Rabu sampai dengan hari Kamis 2 – 3 Oktober 2019. Kegiatan yang dilaksanakan juga dibagi 2 materi, dimana ada materi ruang dan praktek. Materi ruang dilaksanakan mulai sore sampai dengan malah hari, selanjutnya untuk hari berikutnya kegiatan praktek yang dilakukan mulai pagi sampai dengan Siang hari.
Kegiatan ini dihadiri dari berbagai kelompok tani di Jawa Tengah yang diantaranya dari kabupaten Temanggung, Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali dan kabupaten Magelang, dengan kuota peserta masing masig kabupaten adalah 10 orang dari perwakilan kelompok tani dan 1 pesertan dari penyuluh pertanian dari masing masing kabupaten.
Pelatihan ini diadakan untuk mengantisipasi kondisi petani mengenai ketersediaan pupuk kimia yang tiap tahun mengalami penurunan stok, padahal kebutuhan pupuk untuk petani justru semakin meningkat. Sepeti yang disampaikan oleh Bapak Pitoyo selaku panitia penyelenggara pelatihan, Menanggapi hal tersebut para petani mau tidak mau harus mulai menjadi petani organik termasuk juga dalam komuditas tembakau. Disini juga bertujuan tidak hanya untuk kalangan tembakau saja melaikan juga untuk sayuran dan buah buahan, seperti yang sudah di lakukan di kelompok tani Tranggulasi selama ini.
Di jelaskan pula bahwa selama menjadi pelaku pertanian organik anggota kelompok tani Tranggulasi mengalami peningkatan hasil yang luar biasa dan juga mempermudah dalam perawatan terlebih sangat menghemat biaya untuk produksi pertanian.
Peserta diharapkan bisa menjadi petani organik dan mengajak para petani di lingkungan masing masing karena didalam pelatihan ini peserta di bekali dengan ketrampilan pembuatan pupuk organik padat, pembuatan pupuk organik cair, dan pembuatan mikro organisme lokal (MOL). Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini. Dimana para peserta tidak hanya mendapatkan materi melainkan juga bisa praktek langsung di lapangan. Pada praktek di lapangan peserta di haruskan bisa membaca bahan bahan di lingkungan sekitar. Dengan tujuannya adalah untuk memanfaatkan barang brang yang ada di sekitar dan juga pengematan biaya produksi. Seperti halnya pembuatan pupuk organik cair atau yang di sebut PGPR, disini bahan yang digunakan adalah bahan yang berada dalam lingkungan sekitar kita, seperti halnya memanfaatkan akar bambu, bekatul, dll. Begitu juga dalam pembuatan mikro organisme lokal memanfaatkan barang- barang di lingkungan sekitar kita. Seperti contohnya adalah buah buahan yang sudah tidak laku jual, air cucian beras atau yang disebut air leri, tempe busuk, kecambah atau toge, cincau dll.
Pada prinsipnya pembuatan pupuk organik tidak ada aturan baku dalam membuatanya, melainkan kita belajar memanfaatkan barang yang ada di sekitar lingkungan kita, mengingat setiap tempat memiliki struktur dan kesuburan tanah yang berbeda-beda.
Pengalaman yang di alami kelompok tani Tranggulasi yang sudah melakukan tani organik sejak tahun 2004 sampai sekarang sudah dapat membedakan perbedaan antara organic dan menggunakan pupuk kimia. Dimana dari segi biaya, kualitas, kuantitas maupun dari harga jual. Hasil dari tanaman organik tidak lah kalah dengan yang menggunakan pupuk kimia. Bahkan untuk tanaman tembakau sekalipun, untuk tahun ini kelompok tani Tranggulasi Selongisor, Desa Batur hasil tembakau lebih meningkat dengan tahun tahun lalu yang masih menggunakan sedikit pupuk kimia. Selain itu tembakau organik juga mempunyai kualitas tembakau yang jauh lebih baik dari pada tembakau yang masih menggunakan pupuk kimia. Mulai dari warna, bau, ketebalan daun serta kemudahan pematangan daun sebelum proses pengrajangan.
Hasil Pertanian Kelompok Tani Tranggulasi
Peserta juga diarahkan dalam pemasaran produk organik seperti yang sudah di release oleh kelompok tani tranggulasi dusun Selongisor, Desa Batur ini, yaitu dengan bergabung dengan Badan Usaha Milik Petani Mitra Tani Organik Sejahtera atau sering di sebut BUMP MITOS. Seperti yang sudah dilakukan oleh para pelaku petani organik disini, penjualan hasil taninya sudah menembus pasar swalayan, supermarket, bahkan sudah sampai expor keluar negeri seperti Malaysia dan Singapore. Arahanya apabila peserta telah melakukan petani organik otomatis kesejahteraan petani pun akan menigkat.
Untuk acara kelanjutan dari program pelatihan ini, pemerintah akan melakukan pendampingan dan pengawasan terhadap kelompok tani yang sudah megikuti pelatihan tersebut. Guna untuk menciptakan petani organik masa depan serta penyadaran terhadap petani bagaimana pentingnya kita meningkatkan kesuburan tanah dengan cara mengurangi sampai dengan tidak menggunakan pupuk kimia. Seperti halnya yang disampaikan oleh Bapak Suwalim salah satu perwakilan dari dinas pertanian Jawa Tengah, bahwa petani merupakan pelaku bisnis (Business Man) maka dari itu petani harus memikirkan jangka panjang untuk kualitas lahan pertanian yang merupakan ladang penghasilan dari hasil bisnis para petani.
Disampaikan juga untuk mengubah petani menjadi petai organik bukanlah hal yang mudah. Seperti kita ketahui program pemerintan Go Organik sejak tahun 2004 pun sampai saat ini masih banyak petani yang masih bergantung terhadap pupuk kimia. Namun hal ini tetap akan terus kita lakukan mengingat kerusakan tanah pertanian yang semakin hari semakin berkurang kesuburanya, luas lahan yang semakin berkurang, dan juga ketersediaan stok pupuk yang setiap tahun mengalami penurunan stok pupuk bersubsidi. Petani saat ini harus pandai dalam melakuakan pengolahan tanah serta hasil pertanian yaitu salah satunya dengan cara beralih menjadi petani Oganik. Kita tahu bahwa petani merupakan seorang profesor dimana petani harus memcahkan setiap permasalahan yang mereka hadapi sendiri.
Perlu di ketahui juga bahwa masalah-masalah yang timbul tersebut sebenarnya dari perlakuan petani itu sendiri. Seperti halnya sekarang ini banyak sekali masalah yang timbul dalam tanaman pertanian. Tak lain masalah tersebut timbul dari beberapa faktor, diantaranya adalah peggunaan pupuk kimia, pupuk dasar maupun penggunaan pestisida yang tidak sesuai dosis. Apa bila kita melihat kebelakang dan belajar dari masa lampau yang dimana para petani belum nengenal bahan kimia, justru tidak ada berbagai macam penyakit yang timbul terhadap tanaman. Maka dari itu ini merupakan hal yang harus kita renungkan bersama bagaimana dampak penggunaan bahan kimia untuk pertanian kita kedepan dan terhadap kesehatan kita.
Kontributor
Mujiono
Kelompok Tani Margomulyo (Timboa)
Ngadirojo, Gladaksari, Boyolali