Login

Mengenal Tiga Varietas Utama “Makanan Dewa”

09 Juli 2019 17:34:04 | Chocolate & Cocoa

Eits, makanan dewa yang dimaksud di sini adalah kakao. Sejarah membuatnya menyandang nama latin Theobroma cacao, yang artinya makanan dewa. Pada jaman dahulu, tepatnya pada masa peradaban Suku Maya, kakao menjadi persembahan dalam ritual untuk para dewa, meskipun saat itu sebenarnya dalam bentuk minuman. Kakao baru bisa diolah menjadi makanan beberapa abad setelahnya.

Meskipun awalnya berawal dari daerah Amazon, saat ini produsen terbesar kakao berada di Afrika Barat, khususnya Ghana, Nigeria, dan Pantai Gading. Wilayah utama produsen kakao lainnya berada di Amerika Selatan, serta Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Kakao di Asia merupakan tanaman yang relatif baru, tapi perkembangannya cukup pesat. Bahkan menurut data yang dirilis FAO, tahun 2017 lalu, Indonesia sempat menjadi produsen kakao nomor tiga dunia.

Selain dipengaruhi oleh proses pengolahannya, citarasa kakao bervariasi tergantung pada varietas kakao yang diolah. Ada tiga varietas utama kakao di dunia, yaitu Criollo, Forastero, dan Trinitario. Masing-masing varietas ini memiliki karakteristik yang berbeda.

  1. Criollo
    Criollo, atau kakao mulia, berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, serta Kepulauan Karibia dan Sri Lanka. Kakao varietas ini umumnya menghasilkan biji kakao dengan kualitas tinggi, tapi produktivitasnya rendah. Kontribusinya terhadap produksi kakao dunia hanya sekitar 5%. Selain karena produktivitasnya yang rendah, kerentanannya terhadap penyakit juga menurunkan minat petani untuk membudidayakan kakao jenis ini. Namun demikian, kakao jenis ini diklaim memiliki cita rasa yang paling enak daripada varietas kakao lainnya. Kakao Criollo menghasilkan sekitar 20 – 30 buah (pod), lebih sedikit dibandingkan varietas lainnya yang bisa menghasilkan lebih dari 30 buah. Biji kakao Criollo memiliki warna putih hingga pink.

    Di Indonesia, kakao jenis ini lebih banyak dibudidayakan oleh perkebunan besar negara, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Criollo mampu hidup di ketinggian sekitar 500 – 600 meter di atas permukaan laut, meski tidak sebaik dua varietas lainnya.

  2. Forastero
    Forastero disebut juga dengan istilah kakao lindak. Varietas Forastero berasal dari wilayah Amazon. Namun saat ini lebih banyak dibudidayakan di Afrika, Ekuador, dan Brazil. Produktivitas kakao jenis ini lebih tinggi dibandingkan Criollo. Bahkan produksinya mencapai 80% total produksi kakao global.

    Forastero memiliki biji berwarna ungu dan rasanya cenderung pahit. Namun demikian, varietas ini lebih banyak dibudidayakan daripada Criollo karena produktivitasnya tinggi dan lebih tahan terhadap penyakit.

    Varietas kakao ini banyak dibudidayakan oleh petani kakao di Sulawesi, khususnya di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Menurut peneliti dari BPTP Yogyakarta, varietas Forastero mampu hidup dengan baik di ketinggian sekitar 300 – 650 meter di atas permukaan laut.

  3. Trinitario
    Trinitario merupakan hasil persilangan antara Criollo dan Forastero. Menurut sejarah, kakao Trinitario ditemukan secara tidak sengaja di Pulau Trinidad. Varietas ini memiliki aroma Criollo, namun produktivitas dan ketahanannya terhadap penyakit diturunkan oleh Forastero. Karena berasal dari dua induk yang karakteristiknya sangat berbeda, karakteristik buah dan biji kakao Trinitario juga sangat bervariasi. Dibandingkan dua varietas lainnya, Trinitario hidup lebih baik pada ketinggian sekitar 150 – 200 meter di atas permukaan laut. Saat ini, kakao varietas ini bisa ditemukan dimana kakao Criollo pernah tumbuh, seperti Amerika Tengah, Kepulauan Karibia, Asia Tengah, dan beberapa wilayah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. (vno)