Login

Nematoda Turunkan Produksi Kentang Hingga 80%

Dipublikasikan pada 07 Mei 2019 13:53:17

Berita & Artikel

Kentang merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak di budidayakan di kawasan dataran tinggi, yang memiliki keuntungan usahatani yang cukup besar. Menurut sejarahnya, kentang berasal dari lembah-lembah di dataran tinggi di Chili, Peru, dan Meksiko. Jenis tersebut diperkenalkan bangsa spanyol dari Peru ke Eropa sejak tahun 1565. Semenjak itulah, kentang menyebar ke negara-negara lain termasuk Indonesia. Menurut Permadi tahun 1989, tanaman kentang masuk di Indonesia pada tahun 1794 yang ditemukan di sekitar Cisarua (Kabupaten Bandung) dan pada tahun 1811 tanaman kentang telah tersebar luas di Indonesia, terutama di daerah-daerah pegunungan di Aceh, Tanah Karo, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Minahasa, Bali, dan Flores.

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh petani kentang adalah adanya serangan nematoda. Nematoda atau yang biasa disebut ‘cacing emas’ oleh petani, merupakan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang berbahaya dan susah dikendalikan. Berbagai cara telah dilakukan petani untuk mengatasinya. Di antaranya dengan mengolah tanah dan mengurangi penggunaan pupuk kimia. Namun, nematoda ini tidak berkurang.

Menurut penelitian Achrom dkk tahun 2011 penurunan hasil panen kentang saat terserang nematoda ini, dapat mencapai 80% dalam satu wilayah. Tingginya tingkat penurunan hasil ini, ternyata belum banyak di sadari oleh petani. Hal tersebut menyebabkan hasil produksi kentang belum maksimal.

Awal mula serangan Nematoda pada tanaman kentang di Indonesia, ditemukan pada Maret 2003, di Dusun Sumber Brantas, Desa Tulung Rejo, Kecamatan Bumi Aji, Kota Batu, Jawa Timur. Menurut penelusuran Manan tahun 2005, benih kentang tersebut, sudah ditanam sejak tahun 2002 dan berasal dari Jerman, tetapi para petani sudah menanam benih impor sejak tahun 1986. Saat ini, menurutnya, petani di Indonesia cenderung lebih banyak menggunakan benih kentang impor, yang diduga banyak membawa Nematoda. Selain melalui benih, penularan nematoda dapat terjadi melalui perantara alat pertanian (cangkul, sabit, dll) yang sudah pernah digunakan pada lahan terinfeksi nematoda, kemudian digunakan pada lahan yang tidak terinfeksi.

Alat pertanian jika digunakan pada lahan terinfeksi nematoda, dapat menjadi perantara nematoda berpindah tempat. Telur nematoda yang berada di dalam tanah, akan menempel pada permukaan alat pertanian. Jika tidak dibersihkan, telur nematoda yang menempel pada alat pertanian tersebut, dapat berpindah ke lahan yang tidak terinfeksi nematoda.

Gejala serangan nematoda belum dapat terlihat jelas, apabila populasi nematoda di lahan masih dalam jumlah yang rendah. Beberapa Gejala serangan nematoda yang terlihat pada tanaman kentang, dapat berupa :

  1. Pertumbuhan tanaman yang tidak normal, kerdil, dan cenderung layu.
  2. Akar rusak dan terdapat benjolan kecil berwarna kuning keemasan, yang dapat menurunkan mutu dan kualitas kentang.
  3. Terdapat benjolan pada umbi kentang, serta umbi tersebut bentuknya berubah.

Pengendalian nematoda saat ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya, penggunaan varietas resisten/tahan terhadap nematoda, praktek bercocok tanam yang baik (GAP), penggunaan musuh alami nematoda seperti jamur parasit Trichoderma, dan penggunaan nematisida secara bijak. Serta selalu menjaga kebersihan alat pertanian yang telah digunakan.

Selain itu, pengendalian nematoda dapat juga dilakukan dengan menggunakan sistem pergiliran tanam menggunakan tanaman selain kentang. Teknik pengendalian nematoda menggunakan rotasi tanaman atau pergiliran tanaman sejauh ini memang tidak menimbulkan kerugian, hanya saja membutuhkan waktu yang relatif lama. Semakin lama aktivitas pergiliran tanaman ini dilakukan, maka penurunan populasi nematoda akan semakin baik. Di samping dapat menurunkan populasi nematoda dalam tanah, rotasi tanam atau pergiliran tanam juga dapat memulihkan unsur hara dalam tanah akibat perusakan.