Pencemaran logam berat merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang serius. Tidak hanya di perairan, logam berat juga bisa mencemari tanah.
Logam terdapat dalam tanah secara alami muncul melalui berbagai proses alam, seperti sedimentasi dan pelapukan batu. Namun demikian, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa konsentrasi logam pada tanah dapat meningkat karena penggunaan bahan kimia pertanian seperti pupuk dan pestisida, serta sampah (plastik dan kaleng) dan limbah cair yang dibuang pada tanah. Beberapa logam yang mencemari lahan pertanian adalah kadmium, arsen, tembaga, dan timbal.
Keberadaan logam berat pada tanah mempengaruhi kesehatan tanaman yang tumbuh di atasnya. Tanaman mampu menyerap logam berat dari tanah, namun hanya beberapa jenis yang toleran terhadap logam berat. Logam berat dapat menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan menyebabkan kematian. Tidak berhenti di sini, logam berat dapat berpindah ke hewan dan manusia melalui konsumsi tanaman yang tercemar logam berat.
Pada tubuh manusia, logam berat dapat memicu perubahan sel, yang di kemudian hari bisa bermanifestasi menjadi kanker dan tumor. Jika terakumulasi pada organ tubuh, logam berat bisa menyebabkan kegagalan ginjal, radang paru, dan sebagainya. Oleh karena itu, industri-industri besar yang memproduksi makanan untuk bayi dan bailta, biasanya mensyaratkan kadar logam berat yang rendah untuk hasil pertanian yang akan digunakannya.
Mengurangi kadar logam berat pada hasil pertanian harus dilakukan sejak dari lahan. Salah satunya dengan menanam tanaman bukan pangan yang mampu menyerap logam berat dengan baik. Penggunaan tanaman untuk mengurangi logam berat pada tanah dinilai sebagai cara yang efektif karena tidak memerlukan biaya tinggi dan bisa diterapkan langsung pada lahan tercemar. Keuntungan lainnya adalah tanaman bisa menyerap lebih dari satu jenis logam berat.
Sebuah penelitian dilakukan oleh Livia Sisilia tahun 2016 mengenai pemanfaatan tanaman akar wangi untuk penyerapan logam berat, khususnya tembaga (Cu). Hasilnya menunjukkan bahwa tanaman akar wangi mampu menyerap logam berat tembaga hingga 72%. Semakin banyak tanaman akar wangi, semakin banyak logam berat yang terserap dari dalam tanah.
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Aini Rinarti dkk tahun 2010 menunjukkan hasil serupa untuk penyerapan logam berat timbal (Pb). Dalam periode 20 hari setelah tanaman akar wangi ditanam, konsentrasi timbal pada tanah turun hingga separuhnya.
Dalam hal penyerapan logam berat, tanaman akar wangi memiliki beberapa keunggulan. Tanaman ini tahan cuaca ekstrem, seperti kekeringan, banjir, dan embun beku (frost/bun upas). Akarnya mampu menembus lapisan tanah setebal 15 cm meskipun tumbuh pada lereng keras dan berbatu